Ketika Dunia Tak Lagi Berbatas
Setiap hari kita bangun dengan informasi dari berbagai penjuru dunia. Berita tentang perang di Timur Tengah, kebijakan ekonomi Amerika Serikat, perkembangan kecerdasan buatan di Tiongkok,...
Diskon biaya layanan marketplace hingga 50 persen bagi UMKM terdengar seperti kabar baik. Namun, jika dicermati lebih dalam, kebijakan ini berpotensi menjadi sekadar obat pereda nyeri, bukan penyembuh penyakit.
Persoalan terbesar UMKM bukan semata-mata besarnya potongan biaya dari marketplace. Masalah yang lebih mendasar adalah ketergantungan pelaku usaha terhadap platform digital yang semakin hari semakin menentukan siapa yang terlihat dan siapa yang tenggelam.
Murahnya biaya layanan tidak otomatis membuat produk lebih laris jika algoritma tetap berpihak kepada penjual yang sanggup menggelontorkan anggaran iklan.
Ironisnya, banyak UMKM justru terjebak dalam persaingan harga yang tidak sehat. Demi mengejar penjualan, mereka rela memangkas keuntungan hingga titik yang nyaris tidak masuk akal.
Ketika biaya layanan dipotong, ruang keuntungan memang sedikit bertambah. Namun, keuntungan itu bisa kembali habis karena promosi berbayar, perang diskon, hingga ongkos operasional yang terus meningkat.
Kita juga perlu bertanya, mengapa solusi yang terus ditawarkan selalu berkutat pada biaya layanan?
Mengapa pembahasan mengenai perlindungan produk lokal, pembatasan praktik predatory pricing, hingga masuknya barang impor murah tidak mendapat perhatian yang sama besarnya?
Selama akar persoalan ini tidak disentuh, UMKM akan tetap berada pada posisi yang lemah.
UMKM Indonesia tidak membutuhkan belas kasihan dalam bentuk diskon sesaat. Mereka membutuhkan ekosistem bisnis yang adil.
Mereka membutuhkan kepastian bahwa produk lokal memiliki ruang untuk bersaing secara sehat, bukan sekadar menjadi pelengkap di tengah banjir produk murah yang menguasai pencarian marketplace.
Pemerintah dan penyedia marketplace seharusnya tidak berhenti pada kebijakan yang mudah dipublikasikan. Yang jauh lebih penting adalah keberanian membangun aturan yang benar-benar berpihak kepada pelaku usaha kecil.
Jika tidak, diskon biaya layanan hanya akan menjadi headline yang menarik hari ini, tetapi dilupakan ketika UMKM kembali menghadapi persoalan yang sama esok hari.
Pada akhirnya, keberhasilan UMKM tidak diukur dari seberapa besar potongan biaya yang diberikan, melainkan dari seberapa besar kesempatan mereka untuk tumbuh secara mandiri.
Sebab, UMKM tidak membutuhkan kemurahan hati. Mereka membutuhkan keadilan.